Pengejaran Akan Kemuliaan

Pengejaran akan kemuliaan sangatlah memberi motivasi. Betapa sering kita akan mencoba lebih keras atau berlari lebih jauh ketika kemuliaan itu
tampaknya bisa diraih. Kita bahkan rela mengorban- kan kenyamanan pribadi demi kesempatan untuk me- raihnya. Sambil mengulang-ulang “Tanpa kerja keras tidak ada hasil!” kita akan berjuang untuk mendorong diri kita lebih jauh lagi. Kita ingin hidup kita berarti. Kita ingin dirayakan karena mengejar sesuatu yang bernilai.

Ada alasan mengapa kita sangat haus akan ke- muliaan. Di dalam Firman Allah kita mendapati bah- wa kita memang diciptakan untuk kemuliaan. Ia telah membentuk tubuh kita dan mengembuskan kehidup- an ke dalam diri kita sehingga kita bisa mengetahui betapa besarnya kemuliaan-Nya dan merasa takjub karenanya. Hati dan pikiran kita dimaksudkan untuk merasa terkesan oleh kebaikan Allah, dan kita akan dengan rela hati menyembah dan menaati Dia. Dengan cara ini kita akan merefleksikan kemuliaan Allah yang menakjubkan.
Tetapi, perhatikanlah sekeliling Anda. Dunia tidak bersinar dengan kekudusan yang mulia, bukan? Mung- kin Anda telah melihat bagaimana kejahatan telah merusak bentuk dunia kita. Ada penderitaan, kepahit- an, dusta, dan kematian. Jika kita telah diciptakan untuk mengenal kemuliaan Allah, kesalahan apakah yang telah terjadi sehingga keadaannya bisa demi- kian?
Jawaban yang diberikan oleh Firman Allah me- nunjuk ke hati kita. Kita telah diciptakan untuk bersan- dar pada Allah dan memuliakan Dia. Tetapi kita justru berkeras untuk mengejar kemuliaan bagi diri kita sen- diri. Kita telah menggantikan kemuliaan Allah dengan keinginan kita sendiri, dan berupaya keras untuk

mendapatkan kemasyhuran bagi diri kita. Inilah yang Alkitab sebut “dosa” dan ini adalah ketidaktaatan ter- hadap tujuan Allah bagi kita. Dosa mencobai kita un- tuk menemukan kepuasan di dalam kerapuhan kita sendiri alih-alih di dalam keagungan Allah. Dengan keinginan yang keliru, kita mencoba untuk menda- patkan kemuliaan yang langgeng di dalam identitas kita, pekerjaan kita, atau impian kita. Tetapi berulang kali kita mendapati diri kita merasa hampa dan tidak puas. Kita juga mendapati diri kita dihukum karena dosa kita tidak luput dari penglihatan Allah. Ia adalah Hakim yang adil. Kita telah bersalah karena mening- galkan kebenaran-Nya sementara berusaha untuk menegakkan kebenaran kita sendiri. Hukuman bagi dosa ini dideskripsikan dengan cukup jelas: kematian dan keterpisahan kekal dari Allah.
Tetapi pesan Injil sungguh adalah kabar baik yang mulia! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” kata Alkitab, “sehingga Ia telah mengaru- niakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus Kristus, Anak Allah yang sempurna, mengambil rupa manusia tetapi tan- pa dosa manusia. Ia hidup di antara manusia tetapi tidak ikut di dalam ketidaktaatan mereka. Ia tidak

pernah menyimpang dari melakukan kehendak Allah dan memuliakan nama Allah. Ia secara sempurna mencerminkan kemuliaan Allah.
Alkitab berkata bahwa Yesus Kristus “taat sam- pai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Ketaat- an-Nya menyebabkan Dia mati di kayu salib. Meng- apa demikian?
Inilah jawabannya: Yesus Kristus menanggung- kan hukuman kita ke atas diri-Nya sendiri. Ia telah mati untuk menjalani kematian kita agar kita bisa hidup. Ia telah menderita hukuman yang seharusnya kita tanggung. Ia mengenakan dosa-dosa kita agar kita bisa mengenal pengampunan. Ia telah menyerah- kan nyawa-Nya agar kita bisa diterima di hadapan Allah. Ia telah mati bagi kita sehingga kita bisa meng- akui dosa-dosa kita dan mendapatkan penebusan di dalam Dia. Ini adalah kabar yang ajaib dan mulia! Tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus Kristus bangkit kembali. Ia bangkit sebagai Pemenang atas hukuman, kematian, dan dosa!
Alkitab membahasakan kabar baik ini seperti berikut: “Demikianlah sekarang tidak ada penghu- kuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Di dalam Yesus, kita dikaruniai pengampunan, peng- harapan, damai sejahtera, dan kepuasan. Di dalam

Yesus, kita sudah diterima di hadirat Allah dan mene- mukan kembali keindahan kasih dan kekudusan-Nya. Inilah keselamatan. Ini sungguh mulia. Inilah Injil.
Sahabatku yang terkasih, sudahkah Anda mengakui dosa-dosa Anda dan percayai kepada Yesus Kristus? Apakah Anda mau percaya kepada kematian dan ke- bangkitan-Nya sebagai jalan bagi keselamatan kita? Anda bisa diselamatkan hari ini. Ia akan mengampuni Anda.
Kami berdoa agar Anda mau percaya kepada-Nya dan menemukan bahwa kemuliaan-Nya sungguh-sung- guh memuaskan.

Pertandingan Iman